Waspada 5 Dampak Pencemaran Lingkungan terhadap Ekosistem

Banyak sekali kerugian yang dialami saat lingkungan sudah tercemar. Bahkan, bukan hanya manusia, dampak pencemaran lingkungan bisa menyebar ke semua ekosistem. Dari sekian banyak dampak yang biasa terjadi, berikut beberapa di antaranya yang perlu Anda waspadai.

  1. Kesuburan Tanah Berkurang

Pencemaran lingkungan menyebabkan berkurangnya kesuburan tanah. Faktor pemicunya bisa berupa penggunaan pestisida seperti insektisida pada tanaman. Setiap ekosistem darat, seperti kebun, sawah, dan ladang yang sudah tercemar, maka membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan kesuburannya tersebut.

Tanah yang sudah tercemar bukan tempat yang nyaman untuk habitat cacing tanah. Sudah tidak ada lagi zat hara dan unsur penting penyubur lainnya bagi tumbuhan. Begitupula dengan serangga yang membantu penyerbukan, tidak tertarik untuk mendekat. Kalau sudah demikian, tentu yang rugi juga manusia, khususnya petani.

  1. Rusaknya Habitat Laut

Pernahkah Anda mendengar kasus tentang kura-kura atau penyu laut yang terluka hidungnya karena tusukan kayu pada hidungnya? Ada juga kasus lain yang membuat habitat mereka tercemar dan populasi menurun akibat banyak yang mati karena menelan plastik. Hal ini tentu bukan tanpa alasan atau semacam sebuah kebetulan.

Sampah plastik yang mencemari pantai akibat ulah manusia, lama-lama terbawa ke laut. Selanjutnya, dalam pandangan kura-kura dan penyu, sampah plastik ini, terutama yang berwarna putih bening, terlihat seperti makanan kesukaan mereka, yakni ubur-ubur. Akhirnya, pencernaan mereka terganggu dan menyebabkan kematian.

  1. Semakin Sering Terjadi Blooming

Dampak pencemaran lingkungan yang satu ini sering juga disebut Algae Blooming. Ledakan populasi alga yang terjadi di perairan tertentu ini merupakan salah satu indikasi tercemarnya perairan tersebut. Jika alga hijau yang mendominasi, biasanya perairan berubah menjadi berwarna hijau.

Sedangkan jika alga merah yang tumbuh subur, perairan berubah warna menjadi merah. Alga ini memang termasuk tanaman (plankton), tapi jika populasinya terlalu banyak, maka kadar oksigen dalam air akan menurun. Oleh karena itu, sulit bagi makhluk hidup lain seperti ikan dan hewan air lainnya untuk hidup di perairan seperti ini.

  1. Berkurangnya Keanekaragaman Hayati

Indonesia termasuk negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi. Sama seperti Brazil, beragam jenis fauna dan flora bisa Anda temukan di Indonesia. Sayangnya, dengan semakin banyaknya pengalihan fungsi hutan menjadi penginapan dan sarana hiburan, beberapa tumbuhan dan hewan endemik yang kurang mampu beradaptasi, mulai berkurang.

Sedikit saja perubahan terjadi pada suatu habitat, maka akan mempengaruhi ekosistem di sekitarnya. Contohnya gajah dan harimau yang menyerang pemukiman penduduk karena tempat tinggal mereka yang menyempit. Selain itu, suara bising dari alat untuk menebang pepohonan di hutan ternyata cukup menganggu dan bikin stres hewan-hewan tersebut.

  1. Kehilangan Tempat Tinggal

Kemarau dan penghujan merupakan 2 musim yang ada di daerah tropis, sehingga Indonesia termasuk di dalamnya. Apa hubungannya dengan pencemaran lingkungan? Tentu sangat erat sekali kaitanya satu sama lain. Jika kemarau terjadi di lingkungan tercemar, maka akan sulit memperoleh air bersih karena sumber air pun tercemar.

Begitupula saat musim penghujan datang, maka lingkunagn yang sudah tercemari oleh banyak sampah, baik di darat maupun sungainya, maka bisa menyebabkan kebanjiran. Kalau demikian yang terjadi, maka semua makhluk hidup terancam kehidupannya karena kehilangan tempat tinggal, tempat mencari makan, dan lainnya.

Dari kelima poin tersebut, bisa Anda lihat bahwa dampak pencemaran lingkungan bukan masalah sepele. Baik pencegahan maupun penanggulangannya perlu campur tangan banyak pihak. Kalau lingkungan sudah terjaga, maka akan lebih mudah mendapatkan air bersih, baik untuk mencuci maupun mandi menggunakan sabun Lifebuoy.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*